Bisa dibilang akulah cucu kesayangannya hingga ajal menjemputnya dia masih mencariku....
Itulah cerita yang selalu ku ingat sampai kapanpun........
Sedari kecil aku sudah terbiasa hidup jauh dari mama karena beliau harus mengajar diluar kota. Pengganti mama ya si Mbah. Bola matanya yang biru, kulitnya yang putih, dan rambutnya yang lurus panjang, semua sebagai tanda dia berdarah Belanda. Menurut cerita yang kudapat, buyutku adalah seorang Belanda dan karena darah keturunan yang mempengaruhi fisiknya itu, konon nenekku adalah bunga desa dikala itu. Badannya yang bongkok yang menurut kisahnya karena tertimpa reruntuhan tembok akibat gempa bumi tidak sedikitpun mengganggu kecantikannya. Ahh..semuanya mengakibatkan air mataku berlinang lagi. Selama bertahun - tahun jauh dari mama, si Mbah selalu memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu. Mulai dari urusan uang jajan sekolah, sampai urusan tetek bengekku dia lah yang mengurus, termasuk kedua saudaraku.
Aku masih teringat, tidak semua penghuni rumah menyukainya karena dulu banyak yang bilang dia pelit. Tetapi aku baru sadar mengapa dia demikian..Dia sangat menghargai walau seperak yang dia pegang karena bagi dia mencari uang walau seperak adalah pengorbanan dan pengabdian. Maka itu dia selalu menghargai seberapapun yang dia pegang. Selain itu, dia lebih mementingkan kebutuhan cucu - cucunya karena dia tidak mau cucu - cucunya kehilangan sosok seorang ibu walau harus melalui dia.
Setiap malam aku masih teringat rintihannya menyuruhku mengambilkan air panas untuk mengkompres badannya..Karena saat itu aku masih kecil, aku harus ke kamar depan untuk membangunkan tanteku. Tak terhitung lagi kenangan bersamanya baik suka maupun duka..Dongeng - dongeng indah selalu menghangatkanku dikala malam.. Aku masih ingat cerita timun mas, bisutunu dan buta, kalongwewe, dan lain sebagainya yang selalu dia ceritakan. Belom lagi tangannya yang tidak kenal lelah menggoyangkan kipas rotan agar aku bisa tidur. Aku selalu memeluknya disaat aku teringat kisah - kisah seram yang aku dengar tadi sore. Satu hal lagi yang masih aku kenang adalah masakannya yang sangat enak. Apapun dia bisa dan menyanggupi hanya untuk melayani kami bertiga.
"Aku ini anak yang nakal !!"
Kata - kata ini adalah penyesalan seumur hidupku sampai sekarang. Tidak pernah sedikitpun kata kasar terucap darinya apapun kenakalanku. Hanya karena sebuah mainan kecil yang hilang, jajan yang tidak sesuai selera, berantem antar saudara, dan sampai lauk makan yang membosankan aku bisa berubah menjadi seorang anak yang menyebalkan. Tetapi dia selalu sabar dan tidak ada sedikitpun amarah yang dia pancarkan.. Sesekali hanya air mata yang menetes dan kata - kata sedih yang terucap.."Mbah mau pulang ke kampung aja..Putu - putu pada nakal - nakal kabeh.." aku masih sangat ingat sekali suaranya, air matanya, dan wajahnya...
Sampai pada saat aku harus pindah ke luar pulau mengikuti ayahku yang pindah tugas. Saat itu si Mbah tidak bisa ikut karena kesehatannya yang mulai menurun. Aku sangat sedih dan histeris saat itu..Aku tidak peduli dengan kondisiku yang saat itu mulai beranjak ABG. Aku memeluknya erat sekali dan tak sanggup aku melepasnya. Air matanya membasahi keningku yang dia cium lama sekali. Dia hanya berkata, "sing ati - ati ya putu, sinau sing kenteng men dadi pegawe kayak bapak.." Dia memberiku Handuk mandi kepadaku. Menurutnya, Handuk bisa menghangatkanku dan agar aku selalu ingat karena dialah yang memandikanku sedari aku bayi. Dia juga membisikan aku bahwa dia sangat berharap kami bisa menengoknya kelak.Setelah perpisahan itu, aku sempat menengoknya sekali. Dia tak henti - hentinya menangis dan menanyakan kapan kami akan kembali. Yang membuat aku tak bisa menahan air mata, pada saat aku tau dia selalu menyimpan foto kami bertiga di bawah bantal dan selalu melihatnya sebelum dia tidur.
Aku tidak menyangka itu adalah pertemuan terakhir dengannya. Saat itu aku duduk di kelas dua SMU dan masih juga jauh darinya..Saat itu aku masih ingat, aku sedang mengisi acara band di SMUku. Saat itu aku di jemput utusan orangtuaku. Aku sangat shock setelah mendapat kabar si Mbah telah tiada.. Aku tak bisa membendung air mata..Aku ingin sekali memeluk si mbah...
Mbah maafkan cucumu ini yang belum bisa membalas jasamu. Aku kangen si Mbah... Disaat aku jatuh, disaat aku berdiri, aku selalu ingat si Mbah. namun aku tidak bisa memeluk si Mbah..Hanya doa yang bisa aku kirimkan untuk si Mbah disana. Disaat seperti ini, aku merasakan peliknya hidup, aku butuh pelukan dan belaian si Mbah..Aku mungkin tidak bisa melihat si Mbah tetapi aku selalu bisa merasakan kehangatan dan kedamaian itu. Mbah sekarang saya sudah besar, Nony sudah menikah, dan jarang sekali aku berantem lagi sama mas Eka lagi. Mbah, entah apa yang mbah rasakan andaikan mbah bisa melihat kami sekarang. Semoga mbah bisa tersenyum disana...
Mbah aku kangen sekali sama si Mbah.....
Semoga si Mbah menemukan kedamaian disana di kehidupan yang kekal...
Tuhan, berikan dia tempat yang layak disisimu..
Ampunilah semua dosa - dosanya...
Bagiku si Mbah bagai lilin kecil yang rela hancur demi memberikan penerangan untuk kami...
I LOVE U MY GRANDMA....
Itulah cerita yang selalu ku ingat sampai kapanpun........
Sedari kecil aku sudah terbiasa hidup jauh dari mama karena beliau harus mengajar diluar kota. Pengganti mama ya si Mbah. Bola matanya yang biru, kulitnya yang putih, dan rambutnya yang lurus panjang, semua sebagai tanda dia berdarah Belanda. Menurut cerita yang kudapat, buyutku adalah seorang Belanda dan karena darah keturunan yang mempengaruhi fisiknya itu, konon nenekku adalah bunga desa dikala itu. Badannya yang bongkok yang menurut kisahnya karena tertimpa reruntuhan tembok akibat gempa bumi tidak sedikitpun mengganggu kecantikannya. Ahh..semuanya mengakibatkan air mataku berlinang lagi. Selama bertahun - tahun jauh dari mama, si Mbah selalu memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu. Mulai dari urusan uang jajan sekolah, sampai urusan tetek bengekku dia lah yang mengurus, termasuk kedua saudaraku.
Aku masih teringat, tidak semua penghuni rumah menyukainya karena dulu banyak yang bilang dia pelit. Tetapi aku baru sadar mengapa dia demikian..Dia sangat menghargai walau seperak yang dia pegang karena bagi dia mencari uang walau seperak adalah pengorbanan dan pengabdian. Maka itu dia selalu menghargai seberapapun yang dia pegang. Selain itu, dia lebih mementingkan kebutuhan cucu - cucunya karena dia tidak mau cucu - cucunya kehilangan sosok seorang ibu walau harus melalui dia.
Setiap malam aku masih teringat rintihannya menyuruhku mengambilkan air panas untuk mengkompres badannya..Karena saat itu aku masih kecil, aku harus ke kamar depan untuk membangunkan tanteku. Tak terhitung lagi kenangan bersamanya baik suka maupun duka..Dongeng - dongeng indah selalu menghangatkanku dikala malam.. Aku masih ingat cerita timun mas, bisutunu dan buta, kalongwewe, dan lain sebagainya yang selalu dia ceritakan. Belom lagi tangannya yang tidak kenal lelah menggoyangkan kipas rotan agar aku bisa tidur. Aku selalu memeluknya disaat aku teringat kisah - kisah seram yang aku dengar tadi sore. Satu hal lagi yang masih aku kenang adalah masakannya yang sangat enak. Apapun dia bisa dan menyanggupi hanya untuk melayani kami bertiga.
"Aku ini anak yang nakal !!"
Kata - kata ini adalah penyesalan seumur hidupku sampai sekarang. Tidak pernah sedikitpun kata kasar terucap darinya apapun kenakalanku. Hanya karena sebuah mainan kecil yang hilang, jajan yang tidak sesuai selera, berantem antar saudara, dan sampai lauk makan yang membosankan aku bisa berubah menjadi seorang anak yang menyebalkan. Tetapi dia selalu sabar dan tidak ada sedikitpun amarah yang dia pancarkan.. Sesekali hanya air mata yang menetes dan kata - kata sedih yang terucap.."Mbah mau pulang ke kampung aja..Putu - putu pada nakal - nakal kabeh.." aku masih sangat ingat sekali suaranya, air matanya, dan wajahnya...
Sampai pada saat aku harus pindah ke luar pulau mengikuti ayahku yang pindah tugas. Saat itu si Mbah tidak bisa ikut karena kesehatannya yang mulai menurun. Aku sangat sedih dan histeris saat itu..Aku tidak peduli dengan kondisiku yang saat itu mulai beranjak ABG. Aku memeluknya erat sekali dan tak sanggup aku melepasnya. Air matanya membasahi keningku yang dia cium lama sekali. Dia hanya berkata, "sing ati - ati ya putu, sinau sing kenteng men dadi pegawe kayak bapak.." Dia memberiku Handuk mandi kepadaku. Menurutnya, Handuk bisa menghangatkanku dan agar aku selalu ingat karena dialah yang memandikanku sedari aku bayi. Dia juga membisikan aku bahwa dia sangat berharap kami bisa menengoknya kelak.Setelah perpisahan itu, aku sempat menengoknya sekali. Dia tak henti - hentinya menangis dan menanyakan kapan kami akan kembali. Yang membuat aku tak bisa menahan air mata, pada saat aku tau dia selalu menyimpan foto kami bertiga di bawah bantal dan selalu melihatnya sebelum dia tidur.
Aku tidak menyangka itu adalah pertemuan terakhir dengannya. Saat itu aku duduk di kelas dua SMU dan masih juga jauh darinya..Saat itu aku masih ingat, aku sedang mengisi acara band di SMUku. Saat itu aku di jemput utusan orangtuaku. Aku sangat shock setelah mendapat kabar si Mbah telah tiada.. Aku tak bisa membendung air mata..Aku ingin sekali memeluk si mbah...
Mbah maafkan cucumu ini yang belum bisa membalas jasamu. Aku kangen si Mbah... Disaat aku jatuh, disaat aku berdiri, aku selalu ingat si Mbah. namun aku tidak bisa memeluk si Mbah..Hanya doa yang bisa aku kirimkan untuk si Mbah disana. Disaat seperti ini, aku merasakan peliknya hidup, aku butuh pelukan dan belaian si Mbah..Aku mungkin tidak bisa melihat si Mbah tetapi aku selalu bisa merasakan kehangatan dan kedamaian itu. Mbah sekarang saya sudah besar, Nony sudah menikah, dan jarang sekali aku berantem lagi sama mas Eka lagi. Mbah, entah apa yang mbah rasakan andaikan mbah bisa melihat kami sekarang. Semoga mbah bisa tersenyum disana...
Mbah aku kangen sekali sama si Mbah.....
Semoga si Mbah menemukan kedamaian disana di kehidupan yang kekal...
Tuhan, berikan dia tempat yang layak disisimu..
Ampunilah semua dosa - dosanya...
Bagiku si Mbah bagai lilin kecil yang rela hancur demi memberikan penerangan untuk kami...
I LOVE U MY GRANDMA....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar