Kamis, 15 April 2010

Kepahlawanan Seekor Kucing (Penyesalan Selalu Datang Terlambat)


Saat itu awan terlihat mendung ditambah mentari pun hampir tenggelam. Tinggalah seorang janda dan seorang anaknya yang masih bayi di suatu desa terpencil yang rimbun dan masih terkesan alami. Konon kisahnya, suaminya meninggal pada saat perang Paderi membantu Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Belanda. Janda tersebut memiliki seekor kucing yang sudah lama dia pelihara sejak suaminya masih hidup dan sejak mereka belum mempunyai anak. Kucing ini sangat pintar dan berbeda dengan kucing pada umumnya. Seakan dia tau bahasa manusia. Walaupun terlahir sebagai seekor kucing, dia sangat berbakti pada janda tersebut. Hampir setiap hari dia menjaga bayi itu karena janda tersebut harus ke sawah ataupun membantu mencuci pakaian di rumah juragan beras di tengah kampung.

Kembali pada saat awan terlihat mendung dan kilat pun mulai menyambar. Janda tersebut terlihat sangat sibuk. Dia sedang mempersiapkan keranjang rotan yang akan dibawanya ketempat juragan beras. Dirumah juragan beras sedang diadakan pesta kecil untuk menyambut kehadiran anak lelakinya yang pulang dari bukit tinggi untuk menuntut ilmu agama. Janda tersebut diminta untuk membantu menyiapkan makanan - makanan yang tersedia disana. Keranjang rotan tersebut digunakan untuk membawa sisa makanan yang dapat dibawa pulang oleh janda itu. Karena hujan sudah turun rintik - rintik maka janda tersebut mengambil daun pisang untuk melindunginya dari hujan. Seperti biasa dia berpesan kepada kucing peliharaannya agar menjaga bayinya yang sudah terlelap tidur. Setelah itu tidurlah sang kucing di sebelah bayi janda itu.

Malam semakin larut hujan pun sudah berhenti namun gemerecik air dari atap dan dahan - dahan masih terdengar silih berganti. Bebunyian binatang malam juga tak kalah bersautan kala malam itu. Ditengah ruangan luas yang didominasi oleh kayu dan bercahayakan api obor dan petromak, masih juga ramai oleh sanak famili si juragan beras. Janda itu sangat sibuk menuangkan teh hangat di beberapa gelas tanah liat.

Sementara itu dirumah janda tersebut masih terlihat tenang dan sepi. Api obor dan petromak kecil peninggalan orang tua janda itupun hampir saja mati. Saat itu suasana begitu tenang dan bayi janda itupun masih terlelap. Terdengarlah suara yang memecah suasana. Suara yang datangnya dari sebelah kanan bayi janda itu. Suara nafas seekor ular cobra besar yang sudah berdiri tegak di sebelah kanan bayi janda itu. Suara nafas ular tersebut tertangkap oleh telinga kucing peliharaan janda itu. Serentak Kucing tersebut bangun dan secara kilat langsung menerkam ular itu. Terkaman mendadak itu mengalahkan reflek ular tersebut yang disinyalir dapat timbul secara cepat. Terjadilah perkelahian sengit antara ular dan kucing. Bayi janda itu masih saja tertidur pulas tak sedikitpun terpengaruh oleh suara geraman kucing dan isak nafas ular. Beberapa saat kemudian darah segar terpencarkan dari arah si kucing dan ular tersebut. Darah segar itu mengenai tubuh bayi mungil yang sedang tertidur lelap. Ternyata darah seger tersebut keluar dari tubuh ular yang berhasil digigit oleh kucing itu. Tak terelakan lagi, tubuh kucing itupun berlumuran darah dari ular tersebut. Sang Kucing berhasil mengalahkan ular tersebut. Kucing itu telah berhasil menyelamatkan bayi mungil dari terkaman ular berbahaya. Sambil menjilat – jilat tubuhnya yang terkena darah, sang kucing menatap bayi mungil yang masih terlelap tidur. Setelah dia sudah memastikan keadaan aman dengan mengendus – endus tubuh bayi kecil itu, maka sikucing pun membuang bangkai ular tersebut ke bawah ranjang kayu si janda dan dia pun tetap terjaga dari tidur untuk menjaga bayi mungil itu.
Beberapa saat kemudian janda tersebut pun datang dengan membawa keranjang rotan yang penuh dengan makanan. Saat baru beberapa langkah memasuki ruangan yang langsung berfungsi sebagai kamar, janda itu terkaget – kaget melihat anaknya berlumuran darah dan dia langsung melihat si kucing yang berdiri disamping bayi mungilnya dan berlumuran darah pula. Tanpa berfikir panjang, si janda itu berteriak ”Kucing Laknat !! Tega sekali kau memangsa anakku??!!” Diambilnya sebilah parang yang menyelip di dinding anyam rotan rumahnya. Lalu si janda itu langsung menyambarkan parang tersebut ke arah tubuh sang kucing. Sang kucing hanya bisa mengeong kencang dan kemudian mengeong lirih. Saat diambang ajalnya, sang kucing meneteskan air matanya dan perlahan memejamkan matanya petanda dia telah tiada. Karena masih dalam pengaruh emosi yang tak terkontrol, si janda membuang tubuh kucing tersebut ke bawah ranjang kayunya. Saat itu pula si janda tersebut melihat bangkai ular yang terkapar tak jauh dari kaki ranjang kayunya. Si janda tersebut kaget dan terduduk lemas.
Tak lama kemudian dia mendengar tangisan anaknya yang terbangun. ”Oh tuhan... Aku telah berdosa padanya.. Aku telah membunuh pahlawanku...”. Janda tersebut langsung memeluk jasad si kucing erat – erat sembari berkata ”Maafkan aku...Tak seharusnya aku seperti ini terhadapmu”. Malam itu juga Janda tersebut mengubur jasad sang kucing. Penyesalan terus menghantui hati si janda tersebut. Penyesalan yang datangnya terlambat menjadikan penyesalannya seumur hidup. Emosinya telah membutakan semuanya bahkan telah mematikan laju pikirannya untuk bisa berfikir.
Cerita fiksi ini dapat kita jadikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Penyesalan selalu datang terakhir dan selalu menjadikan momok yang sangat dalam di hati kita. Hendaklah kita jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan mengenai apa yang kita lihat, tetapi hendaklah kita harus bisa berfikir dan mencerna mengapa itu bisa terjadi.. Banyak yang kita dapat renungkan dari cerita ini.... Merenunglah dan fikirkanlah sebelum penyesalan itu datang...
By Kheno Whine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar