Rabu, 21 April 2010

Misteri Makam Firaun


”Kematian akan segera mendatangi mereka yang menyentuh makam Pharaoh”.

Itulah yang tertulis pada sebuah prasasti di depan makam Tutankhamun. Kelihatannya memang konyol. Namun, peringatan ini nampaknya terbukti benar ketika semua arkeolog dan para pekerja yang menyentuh makam Tutankhamun dilaporkan meninggal secara misterius dan mengerikan dalam tempo yang tidak terlalu lama setelah peristiwa pembongkaran makam itu terjadi.

Awal dari kutukan ini terjadi pada bulan November 1922. Seorang arkeolog bernama Howard Carter telah menghabiskan tujuh tahun lamanya dan merasa frustrasi mencari makam raja Tutankhamun di lembah Raja-raja Luxor. Namun, penantiannya selama itu ternyata tidak sia-sia baginya. Setelah para pekerja menggali empat meter di bawah makam Ramses VI mereka menemukan pintu masuk pada dinding batu yang menuju lorong yang cukup besar dengan tinggi tiga meter dan lebar dua meter. Mereka membersihkan puing-puing, dan pada langkah yang ke-20 mereka menemukan bagian atas pintu batu yang tertutup.

Begitu pintu terbuka dibutuhkan waktu dua hari kerja keras untuk membersihkan puing-puing pada tangga menurun yang lain. Di ruang depan ternyata terdapat harta karun. Bahkan, ada lebih banyak lagi di ruang dalam yang membutuhkan waktu tiga bulan untu memasukinya. Lord Carnarvon sendiri yang membuka pintu dalam ini pada tanggal 17 Februari 1923. Mumi Raja Tutankhamun terbaring dalam tiga peti mati. Selama berabad-abad damar dan minyak yang digunakan untuk membuat mumi telah berubah menjadi lem yang merekatkan kain linen. Untuk melepaskan kalung itu, Carter melakukan tindakan radikal, yaitu dengan memotong-motong mumi. Ini sangat fatal. Dalam 14 hari, 2 dari orang-orang yang terlibat meninggal secara mendadak. Bahkan, pada tahun 1929 ada 13 orang meninggal karena satu sebab, yaitu ”kutukan”.

Lord Carnarvon sendiri, meninggal pada tanggal 6 April 1923 karena pneumonia, komplikasi akibat gigitan nyamuk yang terinfeksi. Kemudian para jurnalis menemukan prasasti di dekat pintu makam tentang peringatan mengenai kematian tadi. Menyusul kemudian, Lady Carnarvon yang menyusul suaminya meninggal dengan sebab kematian yang tak jelas.

Di tahun yang sama, seorang meninggal secara mendadak setelah mengunjungi makam ini dan dianggap merupakan ulah ”kutukan” juga. Ia adalah Pecky Callender, yang membantu Carter menggali makam.

Akhirnya, banyak ilmuwan mulai menelaah kutukan firaun dari sudut pandang ilmiah. James Randi, pemain sulapterkenal, dalam bukunya, Encyclopedia of Claims, Fraunds, and Hoaxes of the Ocult and Supranatural, menuliskan nama-nama semua orang Eropa yang hadir ketika makam Tutankhamun dibuka dan kapan mereka meninggal.

Dengan menggunakan tabel aktuaria (tabel ini memberi nilai harapan hidup kita, didasarkan pada dimana tempat tinggal kita, apakah merokok atau tidak, dan lain-lain) Randi memeriksa tabel aktuaria yang relevan untuk semua orang yang dihubungkan dengan makam Raja Tutankhamun, dan siapa yang meninggal berikutnya.Ternyata, orang-orang yang hadir dalam pembukaan makam, hidup satu tahun lebih lama dibandingkan ramalan tabel aktuaria. Howard Carter meninggal pada usia wajar, yaitu 66 tahun. Dr Douglas Derry, yang membedah mumi, meninggal pada usia lebih dari 80 tahun. Dan Alfred Lucas, yang menganalisis jaringan tubuh mumi, meninggal pada usia 79 tahun. Hasilnya, kutukan tidak ada pengaruh nyata pada harapan hidup orang –orang yang terlibat pada penggalian tersebut. Jadi dapat disimpulkan, kutukan itu sama sekali tidak pernah ada.

Selain itu, penelitian ilmiah telah berhasil mengungkap siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya yaitu jamur dan bakteri. Para korban mungkin tidak menyadari bahwa dinding-dinding makam yang penuh dengan ornamen-ornamen indah itu ternyata tersembunyi ribuan lebih pembunuh mematikan yang telah berumur 3000 tahun lamanya!

Dinding-dinding itu diselimuti oleh jamur cokelat kecil. Bakteri mungkin muncul dari plester atau cat dan hidup dari kelembaban plester setelah makam ditutup. Dan, pembunuh sebenarnya adalah bakteri mematikan yang bernama aspergillus niger. Dalam makam, yang hangat, bakteri yang menyerang sistem pernapasan ini berkembang. Ia satu-satunya mahkluk yang dapat bertahan hidup selama 3000 tahun di makam itu. Saat Sheryl Munson, korban terakhir yang ikut meninggal setelah berkunjung ke makam tiba dengan ketahanan tubuh yang rapuh, maka ia adalah rumah utama bagi jamur itu. Spora itu terhisap dan menyerang sel yang lemah, menghancurkannya selagi menyebar. Sheryl Munson kekurangan oksigen, 10 hari setelah masuk rumah sakit, fungsi paru-parunya berhenti. Tim dokter berhasil menemukan bakteri aspergillus niger pada saat melakukan biopsi paru-paru Sheryl Munson dan jamu mematikan ini ditemukan banyak lagi di dalam makam Tutankhamun, terutama di dinding makam. Sheryl ternyata telah melakukan suatu hal yang sangat fatal bagi hidupnya pada saat mengunjungi makam Tutankhamun.Ia menyentuh dinding makam dan menguap-usapkan jemari tangannya ke beberapa lukisan cat, dimana disana telah menunggu bakteri yang sangat mematikan untuk bermigrasi ke dalam tubuhnya.

Walaupun sudah mati selama ribuan tahun, mumi hidup bersama bakteri. Beberapa tak berbahaya, namun beberapa lagi sangat mematikan. Tidak memakai pelindung saat bekerja dengan mumi, akan sangat rentan terinfeksi oleh spora jamur. Dan itulah yang terjadi pada Carter dan orang-orang disekelilinginya. Otopsi gegabah terhadap mumi Tutankhamun ternyata melepas banyak pembunuh mengerikan yang kasat mata. Parahnya, pada saat otopsi berlangsung, Carter dan rekan-rekannya tidak memakai pelindung apapun, mereka hanya memakai pakaian sehari-hari. Jadi mungkin ada persilangan kerusakan antar peneliti dan mumi. Namun banyak orang yang beruntung seperti Carter yang tidak terinfeksi bakteri ini.

Kalau begitu, darimanakah kutukan itu berasal? Salah satu kemungkinannya adalah cerita pendek berjudul Lost in Pyramid: The Mummy’s Curse, yang ditulis oleh Louisa May Alcott pada tahun 1860. Kemungkinan lain adalah cerita yang ditulis oleh pelukis Amerika, Joseph Smith (1863-1950). Ia menceritakan tentang mertua Tutankhamun, Raja Akhenaton. Takhta diberikan kepada anak perempuan yang ketiga setelah Raja Akhenaton meninggal. Ketika Tutankhamun menikah dengan anak perempuan ketiga ini, takhta kerajaan diberikan kepadanya. Raja Akhenaton tidak disenangi oleh para pendeta, karena ia telah mencampuri urusan agam mereka. Ia menyatukan ratusan dewa menjadi satu dewa, yaitu Ra, Dewa Matahari. Setelah Akhenaton meninggal dunia, para pendeta membalas dendam dengan mengutuk ”jiwa dan raganya” mengembara secara terpisah di ruang angkasa dan tak pernah bersatu menuju keabadian. Namun kutukan ini bukan ditujukan kepada Tutankhamun. Kepala pendeta, Ay, mengambil takhta ketika Tutankhamun meninggal. Dan ada spekulasi bahwa ialah yang sebenarnya berada dibalik kematian misterius raja muda ini.(El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar