Esok adalah hari pertama puasa. Untuk membasuh raga, Aleh (Onta) menyarankan untuk berenang sehari sebelum puasa. Aku, Yoka (Ginanjar), Ical (Malih) pun ikut pergi berenang di kolam renang dekat kos. Andre (Kingkong), Steve (Pak Tulang), Indra (Pak perut), David (Pajong) walau agama mereka berbeda tetapi mereka ikut memeriahkan ritual kami sore itu. Tibalah kami di kolam renang yang tidak terlalu besar tetapi cukup ramai oleh anak - anak muda penghuni kos sekitar. Kolam renang ini indoor atau di dalam ruangan. Jadi apabila terjadi hujan, kami masih bisa berenang. Ternyata maksud dari ritual Aleh ini selain untuk membasuh raga tetapi juga untuk menyegarkan mata karena mumpung belum puasa. Paling bisa aja memang si onta ini.
JGEEERRRRR...
JGEEERRRRR..
Itulah yang bisa aku dengar sewaktu Indra dan Andre terjun ke air dengan gaya bak ikan paus loncat.
CCPRAAAKKK
CCCPRAAAKKK
PLLUUNG..
Itulah yang bisa ku dengar saat Yoka dan Malih terjun ke air dengan gaya bak uler keket nyemplung.
Sementara aku dan Aleh masih di pinggiran kolam renang. Aleh memegang erat tanganku. Aku yang kala itu akan mengikuti Yoka dan Malih terjun, jadi terhambat oleh pegangan erat tangan aleh.
"No, kamu jangan terjun dulu lah...Temenin aku lewat tangga aja..Pliss.."
Huuuhh ternyata Aleh belum begitu bisa berenang. Karena malu, dia mengajakku menemaninya turun lewat tangga pinggiran kolam. Aleh masih juga tak beranjak dari pinggiran kolam renang. Sementara aku dan yang lainnya sudah melang - lang buana ke sudutan kolam renang sambil cuci mata lewat atas air dan lewat bawah air. Jurus - jurus jitu pun kami lakukan seperti pura - pura menabrak, menyelam, dan sekedar lirik - lirik.
Tak lama kemudian Aku melihat Aleh melambai – lambaikan tangan ke arahku. Aku mengira dia tenggelam. Dengan secepat kilat langsung menghampirinya. Ternyata dia dalam kondisi yang baik – baik saja bahkan terpancar aura kebahagiaan di wajahnya. Langsung saja dia mengenalkan aku dengan dua orang gadis disebelahnya. Wah wah tidak menyangka Aleh yang sejak tadi di pinggiran kolam renang gerakannya cepat sekali dalam hal hunting – hunting cewek. Akhirnya aku mengetahui nama kedua gadis itu. Mereka adalah Sevi dan Sarah. Mereka kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di Jogja jurusan Bahasa Inggris. Karena asik mengobrol aku dan Aleh melupakan keenam temanku yang sejak tadi berjibaku dengan air. Aku dan Aleh asik mengobrol dengan kedua gadis itu. Saat itu keakraban begitu mewarnai kami berempat.
Mereka menanyakan dimana kami kuliah. Dengan bangga aku dan Aleh menyebutkan nama kampusku yang notabene terkenal dengan kampus elit. Terpancar di mata mereka berdua cahaya penuh harap dan respon yang sangat bagus. Aleh langsung mengambil HPnya di tas yang dia letakan tak jauh dari kolam. Melalui HP Aleh kami pun menyimpan nomor HP mereka berdua. Tak lama kemudian mereka berpamitan untuk pulang.
Sesaat kemudian aku tak sadar celana renangku berhasil di cengkram oleh seseorang dari dalam air. Oh God.... ternyata itu Yoka alias Ginanjar. Dia menarik celana renangku sehingga celana renangku turun sampai di atas dengkul. ”Kutukupretttt...Semprulll...!!!” Untung pada saat itu air menutupi bagian bawahku. Bayangkan bila tidak... Terlihatlah belalai sinchan yang begitu panjang dan gahar hehehe...Sementara itu saat aku melihat ke samping, ternyata Aleh sudah berteriak karena dia ditarik ketengah kolam renang. Bak seorang gadis yang sedang di perkosa oleh pemuda – pemuda biadab. ”Tolong...Tolong...Lepaskan aku....Jangan kau paksa aku...Tolong..!!!” Halaahhh masih saja lebay nih si Onta. Tak lama kemudian petugas kolam renang pun datang dan membunyikan peluit ke arah kami. ”Priiiiiiittttt...!!!” ”Mas !! Jangan main – main!! Bisa bahaya !!”. Malih, Indra, Pajong dan Steve pun terdiam dan pucat melihat petugas kolam renang yang besar, hitam, Brewokan, dan atletis itu. Dengan terpaksa mereka menggiring Aleh ke tepian lagi. Aku dan Yoka hanya bisa tertawa terbahak – bahak.
”Hahahahaha... Inilah akibatnya mendzolimi orang lemah..” Celetuk Aleh..
”Huuuuhhh dasar... Kamu berenang apa berendem doang? Malu tuh ma kacamata renang..!! Jawab Pajong.
Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang ke kos. Malam harinya setelah shalat tarawih, aku dan Aleh mencoba menghubungi kedua gadis itu. Dayung pun bersambut. Aku akhirnya menggunakan HP ku sendiri untuk menghubungi Sevi. Sementara Aleh asik mengobrol dengan Sarah. Tak terasa hampir satu jam aku ngobrol via HP. Wadaawww pulsa sekarat....Akhirnya aku mengakhiri pembicaraan. Tetapi sebelumnya aku menawarkan untuk buka bersama keesokan harinya. Sevi pun mengiyakan tawaranku. ”Tai ajak Sarah juga ya...?”. Akupun mengiyakan persyaratan yang diberikan oleh Sevi.
Keesokan harinya pukul 16 : 30 kami sudah bersiap – siap. Aku dan Aleh berdandan seganteng mungkin. Sementara teman – temanku yang lain masih tampak pucat dan terkapar di kamar masing – masing. Aku dan Aleh pun berembuk untuk menentukan dimana kami akan mengajak dua bidadari itu untuk berbuka puasa. Beberapa menit kemudian kami pun beranjak dengan senang hati menuju kos – kosan dua bidadari itu. Tidak susah mencari alamat kedua bidadari itu. Karena kosannya ternyata tidak begitu jauh dari daerah kosan kami. Akupun mengSMS Sevi dan memberitahukan dia bahwa aku dan Aleh sudah di depan kosnya.
Tak lama kemudian munculah dua orang gadis yang kami tunggu – tunggu. Kamipun dengan sigap memberikan helm yang sudah kami sediakan untuk mereka. Seperti tukang ojek yang sumringah mendapatkan penumpang cantik, aku dan Aleh sangat semangat saat itu. Kami tak sadar mereka berdua sudah manyun dari awal tadi. Sepanjang jalan aku berusaha berinteraksi dengan Sevi. Namun dia seperti tidak mendengar. ” Hahhh?? Apa?? Kmu ngomong apa tadi?? Berisik nih suara motornya!!”. Setelah itu dia sama sekali tidak menjawab basa – basiku lagi. Kupreettt ternyata telinganya sudah disumpel dengan headset HP.
Akhirnya aku dan Aleh sudah sampai di tempat yang sudah kami rencanakan. Sambil menunggu makanan yang kami pesan, Aku dan Aleh membuka obrolan – obrolan untuk membuka suasana. ”Mba sudah lama kos disitu? Mba hobinya apa? Mba anak nomor berapa?Mba suka bola ngga? Mba suka musik apa? Mba, nomor buntut yang nanti keluar apa?(halaahhh..ngarang..)” aku dan Aleh bergantian menanyakan itu. Namun apa yang terjadi... Mereka asik dengan HPnya sendiri dan sesekali hanya mengobrol berdua saja. ”Eh..maap biasa aja ko...” (Lho apa yang ditanya, apa yang dijawab mba?). Aku dan aleh terkejut dengan perubahan derastis yang terjadi. Tidak seperti yang sebelumnya, kami sangat akrab. Aku dan Aleh hanya tendang – tendangan kaki di bawah meja. Setelah berbuka puasa, Sevi dan Sarah meminta untuk segera diantar pulang. Kami pun mengantarnya pulang dengan selamat sampai tujuan.
Setibanya di kos aku dan Aleh berdiskusi masalah tadi.
”Kenapa ya no ko mereka sombong banget??” Tanya Aleh
”Wah aku juga ngga tau leh..” Jawabku
”Mungkin kita ada salah kata ya no?” Gumam aleh
Aku dan aleh memutuskan untuk mengirimkan SMS kepada mereka. Aku mengirim SMS ke Sevi dan Aleh ke Sarah. Sampai shalat tarawih selesai bahkan sampai menjelang tengah malam SMS kami pun belum dijawab. Keesokan harinya aku dan Aleh mencoba menelepon mereka. Namun Hpnya tidak di angkat.Aku dan Aleh semakin bingung. Hampir saja kami memutuskan untuk menghampiri ke kosannya, tiba – tiba HP Aleh berbunyi..”Titiiiittt tiiitiittiit” Maklumlah belum poliphonik. Ternyata itu pesan dari Sarah. ”Kheno!! Sarah SMS nih...!! Aleh berlari kearahku dengan semangat.
Aku dan Aleh segera membuka isi pesannya. Dan ternyata.....isi pesannya....
”Maap Kami Tidak Menerima Lelaki yang Mengendarai Roda Dua....- Sevi n Sarah”
Aku dan Aleh hanya bisa ternganga dan terduduk lemas. Tak menyangka mereka adalah golongan CEMAT (Cewek Matre). Aku dan Aleh saling berpandangan dan tertawa loyo. Ternyata kami salah menilai respon pada pertemuan pertama. Mungkin dia berfikiran bahwa semua cowok yang kuliah di tempat kami adalah cowok – cowok jetset yang mentereng dengan roda empat pemberian ortu. Roda empat? Roda dua? Emang gerobak? Emang cap obat nyamuk?. Mereka mungkin tak menyangka telah berkenalan dengan mahasiswa kutukupret seperti kami. Tidak semua mahasiswa di kampus kami seperti yang mereka bayangkan. Tetap saja ada manusia – manusia kutukupret seperti kami yang hidup apa adanya dan tidak diberi fasilitas jetset seperti yang lainnya.
Aku langsung mengambil gitar dan menyanyikan lagu sheila on 7 ”Pede”.
”Aku memeng belum punya mobil yang bisa teduhkanmu dari hujan...Tapi aku punya lagu yang bisa menghangatkanmu di setiap saat.. Aku memang nggak funky tapi bukan gembel yang hidup tanpa usaha...”
Nggak lama kemudian anak – anak penghuni kos APH – 13 pun bermunculan dari peradabannya. Mereka ikut bergabung bersama kami dan mendendangkan lagu itu bersama – sama sambil menunggu datangnya waktu sahur.

Masa iya sih mereka berdua sms kaya gitu? Bagus! Bagus! At least mereka cewe2 yang jujur. Hahahaha!!!
BalasHapussumpah ini kejadian nyata yoll...aku aja heran banget... nih ada lanjutannya dikit sebenernya...selang beberapa bulan setelah itu, di sebuah mall aku ktemu lagi ma tuh cewek. n dia masih inget ma aku. malah aku di kenalin ma co nya. mungkin sekedar basa basi. nah pas aku mau pulang, ketemu lagi ma dia..nah ketemunya di parkiran motor..ndilalahnya motorku ma motor conya satu deretan parkir...dia kayak salting gitu hehehehe..
BalasHapus