Selasa, 13 April 2010

MOUNT EVEREST (Terlalu tinggi gunung didaki)

Tak kusangka Mount Evrest tinggi juga...Aku sudah lelah...Sepertinya perbekalanku pun sudah habis... Aku tak mau ambil resiko untuk melanjutkan pendakian ini...Pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali dan tidak melanjutkan pendakian ini...Itulah kata - kata bodoh yang terucap dibibirku.. Mungkin anak SD pun tau kalo Mount Everest itu adalah termasuk puncak tertinggi. Dan ini lah untuk kali pertama aku menyerah dan putus asa setelah sekian lama aku malang melintang di dunia pendakian.

Kini aku entah sudah ada di tengah atau mungkin juga sama sekali belum sampai setengah perjalanan. Aku sama sekali tidak tau posisiku dimana. Karena memang aku hanya seorang diri disini tanpa pemandu dan tanpa kawan. Selain itu pula aku baru pertama kalinya menginjakan kaki disini. Keberaniankulah yang membawaku hingga sampai disini. Pada awalnya aku sangat yakin kalau aku bisa menaklukan Mount Everest ini. Tetapi ternyata Mount Everest tidak seperti yang kuduga. Beberapa badai salju sudah aku lalui bahkan suhu dingin yang berhasil menembus jaket tebalku pun sampai saat ini masih terasa. Tetapi aku bersyukur bisa bertahan dari itu semua. Beberapa orang menganggapku gila saat aku akan memulai pendakian ini.. Itu semua tak pernah aku pedulikan. Entah apa yang ku cari dan ku dapat setelah aku sampai ke puncak nanti, aku tidak tau.

Saat ini aku terduduk di tengah – tengah hamparan putih dan disekelilingku pun tertutup kabut tebal. Jarak pandangku hanya kira – kira 50 cm. Jantungku mulai berdegup kencang sehingga merespon rasa takutku akan kematian. Kenapa aku sebodoh ini…? Pada dasarnya aku sangat senang tantangan. Tetapi kali ini ambisiku aku rasa sangat bodoh. Aku rebahkan badanku di hamparan salju putih, mataku berusaha mencari cahaya di langit tetapi tetap saja tertutup kabut. Aku sangat rindu hamparan tanah yang hangat, hamparan rumput yang hijau dan indah. Aku rindu sapaan hangat beberapa anggota keluargaku dan teman – temanku. Aku yakin mereka sedang bertanya – tanya kemana aku saat ini. Masih saja suasana sama. Putih putih dan putih, dingin dingin dan dingin, kabut kabut dan kabut. Aku membuka perbekalanku yang hampir habis. Sebenarnya perasaan takut ini sudah mengalahkan rasa laparku sejauh ini.

Aku berdiri lagi.. Entah apa yang ada di depan, aku benar – benar tidak tahu karena kabut begitu tebal. Inilah saatnya aku memutuskan apakah lanjut atau tidak. Mount Everest yang baru ku kenal benar – benar membunuh keberanianku. Tetapi rasa ingin menaklukan tetap ada di hati. “Aku datang kesini dengan niatku sendiri, aku datang ke sini untuk menjemput impianku, dan aku datang kesini dengan segenap daya yang aku miliki”. ”Tanpa aku tau apa yang nanti akan aku dapatkan di saat aku sampai di puncak”. Aku sudah benar – benar jatuh cinta dengan Mount Everest. Tetapi semua itu hanya tinggal menjadi pilihan ”terus atau kembali”, sementara aku tidak tahu dimana puncak dan ujung dari perjalanan ini. Jangankan ujung, jarak beberapa senti meter pun aku tidak tahu dan tidak bisa melihatnya. Aku menghela nafas sejenak dan akhirnya aku putuskan untuk menghentikan pendakian ini. Mount Everest tidak memberiku kesempatan untuk melihat kedepan. Hanya beberapa senti meter yang aku dapat lihat. Sepertinya terlalu banyak hambatan yang membuat nyaliku berguguran. Aku balikan badanku dan aku mulai melangkah. Inilah langkah pertama dari kegagalanku. Aku menghela nafas lagi karena aku berfikir, kali ini apakah aku bisa menemukan jalan untuk pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar